gravatar

Social Engine

gravatar

Hipnosiasi mengendalikan ketidaknyamanan dalam hubungan intim

Memang kehidupan seksual menguak bak sebuah misteri, walau banyak pernik sebagai asoseris kenikmatan dan kenyamanan dalam hubungan intim dengan pasangannya. Hubungan intim pada umumnya terbayang sebuah arena sarat cinta, kasih sayang, belaian, ungkapan mesra dan kepuasan lahir batin. Mereka merasa tidak nyaman bahkan mengalami keterpaksaan biasanya dirasakan oleh kaum hawa, hingga mendapatkan kebahagian sexual sirna, pupus sudah bayang-bayang kepuasan, kadang kedapatan rasa nyeri Mestinya, para wanita merasakan kepuasan klimaks ketika menikmati hubungan intim. Tapi serta merta mengecewakan juga menakutkan. Walaupun melakukannya, tak lebih sebagai kewajiban. Atau lebih parah, sebagai simbol kepatuhan belaka adalah sangat ironis dengan tujuan dari hubungan intim itu sendiri, diharapkan sehat dan ideal. Keluhan dan ketidaknyamanan itu seringkali adanya pengaruh –pengaruh yang disebabkan :

1. Sexual Arousal Disorder. Dalam keadaan normal, vagina mengeluarkan cairan (lubrikasi) saat menerima rangsangan seksual. Pada gangguan jenis ini, lubrikasi tidak berjalan semestinya. Artinya, upaya membangkitkan gairah seksual tidak diikuti dengan keluarnya cairan pelicin dari vagina, akibatnya saat penetrasi terasa perih. Gangguan ini disebabkan oleh masalah fisik (gangguan hormonal) dan masalah psikis (trauma, stres, kekecewaan). Bisa pula karena foreplay yang kurang memadai. Disamping itu, beban atau keinginan segera hamil dan punya anak, kadang tanpa disadari mengabaikan proses hubungan intim. Perasaan "wajib" hamil, memaksa dirinya berhubungan intim tanpa disertai libido.
2. Hypo-active Sexual Desire Disorder. Adakalanya, wanita malas berhubungan intim. Tidak bergairah. Wajar jika terjadi pada waktu tertentu. Ketika tiadanya gairah seksual berlangsung lama dan sering, patut mendapatkan perhatian. Penyebabnya sama dengan gangguan seksual pada umumnya, yakni gangguan fisik, psikis dan hormonal, misalnya: premenopause, menopause. Gangguan lain sebagai penyebab menurunnya gairah seksual dapat juga terjadi manakala hubungan intim hanya sebagai rutinitas dan sekedar memenuhi kewajiban belaka.
3. Sexual Pain Disorder. Rasa sakit atau nyeri saat berhubungan intim. Terbagi menjadi 2, yakni: Dyspareunia dan Vaginismus.
4. Orgasmic Disorder. Lazimnya, hubungan intim yang sehat diakhiri dengan orgasme. Akan tetapi tidak semua wanita mengalaminya. Sebagian wanita dapat mencapai orgasme, adakalanya orgasme berulang, sebagian lainnya mengalami orgasme tertunda dan sebagian diantaranya bahkan Tidak pernah merasakan orgasme. Beberapa faktor penyebab gangguan orgasme antara lain adalah: kurangnya pengetahuan, faktor psikologis misalnya: kecemasan, trauma hubungan intim sebelumnya dan sebagainya .

Terapi hipnosiasi dengan komunikasi relaksasi pada level alam bawah sadar, frequqnsi sugesti , respon komunikasi klien mengarah pada satu titik, sehingga semua keluhan hilang dari " brainware " dan terbentuk program baru yang berisikan motivasi/ harapan. Dan salah satu kunci kesuksesan hubungan intim adalah komunikasi, karena setiap pasangan memiliki cara dan gaya dalam komunikasi. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Pengetahuan seksual pranikah, tingkat pendidikan, kultur, kebiasaan personal, kondisi fisik, kondisi kejiwaan, lingkungan, sedikit banyak ikut berperan dalam komunikasi setiap pasangan. Kegagalan hubungan intim karena tidak terjalinnya komunikasi, bukan melulu persoalan pasangan muda. Hal ini dapat juga dialami oleh pasangan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Sekali lagi banyak faktor yang mempengaruhinya. Dengan memelihara kualitas hubungan intim berdasarkan kesepakatan setiap pasangan yang dilandasi saling pengertian dan respek pasangan pria-wanita, sangat diperlukan sebagai upaya mencapai dan mempertahankan hubungan intim yang sehat. Tulisan ini saya ambil dari pengalaman dengan klien juga dari beberapa referensi. Enest Sawungpraja

gravatar

Hipnosiasi bagi penderita frigiditas

Para wanita umumnya tahu mengapa selalu 'dingin' terhadap rangsang seksual pasangan. Ada beberapa sebab yang memungkinkan wanita menderita frigiditas, sedangkan frigiditas sendiri adalah suatu disfungsi seksual karena ketidakpekaan tubuh dalam menerima rangsang seksual. Para pria biasanya panik ketika rangsangannya belum tersentuh, tapi wanita penderita frigiditas pun tak bermasalah karena kesulitan mencapai 'puncak' dirasa mengganggu karena hasrat seksual belum tersalurkan hingga tuntas. namun, perbedaan dengan masalah disfungsi ereksi para pria mungkin terletak pada kemampuan wanita mengidentifikasi masalahnya. Yang perlu diketahui penderita frigiditas disebabkan yaitu : Pertama, adanya rasa takut tidak diterima pasangan karena bentuk tubuh. Tanpa sadar, kaum hawa memiliki kecemasan terhadap reaksi penolakan dari pasangan akan bentuk tubuhnya yang mungkin berubah setelah melahirkan anak pertama. Kedua, egoisme seorang pria. dapat terjadi bila si pria hanya memuaskan dirinya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan pasangan wanitanya. Setelah selesai berhubungan intim lantas sang " jago "nya tidak dikaryakan lagi dan si pria tertidur begitu saja alias cuek. Dengan meninggalkan wanita dalam keadaan 'tidak tuntas' seperti itu akan membuat para wanita merasa dimanfaatkan karena hubungan terasa tidak mutualisme. Ketiga, terdapat trauma seksual masa lampau. Pengalaman traumatik seperti pernah diperkosa atau dilecehkan secara seksual juga merupakan salah satu penyebab frigiditas. Trauma tersebut menimbulkan rasa benci terhadap pria atau juga menimbulkan rasa jijik pada dirinya sendiri karena merasa hina. Keempat, keletihan pikiran beban pekerjaan. Wanita yang aktif bekerja biasanya pulang ke rumah dalam keadaan lelah pikiran akibat tumpukkan pekerjaan, namun hal ini juga terjadi pada ibu rumah tangga yang mengalami masalah sehari-hari seperti keuangan. Para wanita ini mengalami stress dan depresi sehingga kepekaannya terhadap rangsang erotis-seksual menurun atau bahkan hilang sama sekali. Kelima, pernikahan yang terjadi karena paksaan. Wanita yang menikah karena dipaksa dan sebenarnya tidak mencintai pria yang menjadi suaminya cenderung menjalani kehidupan seksual sebagai kewajiban saja. Wanita tersebut sama sekali tidak menikmati hubungan intim dan menjadi tidak peka terhadap rangsang. Hal ini juga terjadi bila si wanita memiliki pria lain yang dia cintai. Bila ada pria lain, wanita yang mengalami frigiditas karena faktor ini hanya 'dingin' pada suaminya saja dan lebih banyak berfantasi untuk memuaskan hasratnya. Keenam, adanya penyimpangan seksual laten. Si wanita sebenarnya seorang lesbian, jadi wajar apabila dia tidak bisa merasakan rangsangan terhadap sentuhan - sentuhan pasangan prianya. Atau bisa juga karena si wanita memiliki kecenderungan narsistik, yaitu lebih mencintai dirinya sendiri secara berlebihan. Ketujuh, ketidaknyamanan sosial. Biasanya timbul karena tinggal dengan beberapa keluarga dalam satu rumah atau tinggal dengan mertua. Wanita biasanya merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti itu, terlebih bila memiliki masalah dengan orang-orang yang tinggal serumah dengannya. Soal mertua, urusannya sensitif sekali.

Hipnosiasi dengan terapi sederhana, pada level bawah sadar dari respon komunikasi dengan penderita frigiditas memberikan pengertian dengan pasangannya dan keinginan untuk memiliki kehidupan seksual yang lebih baik, rasa minderpun dapat diatasi sehingga menimbulkan rasa percaya diri. Ditunjang pula dengan mencari informasi dari berbagai bacaan / virtualisasi yang ada hubungannya dengan cara-cara berhubungan intim. Faktor yang mempengaruhi frigiditas sang pria pun harus ikut membantu dengan cara cara memuaskan pasangan dengan berbagai posisi, unutk memperlambat ejakulasi. Terapi diri sendiri melalui program hipnosiasi dapat membantu membangun state yang santai dan rileks. Komunikasi dua arah yang ringan ringan, tentunya dengan rayuan atau pujian yang menyenangkan untuk memicu gairah wanita penderita frigiditas. Dari berbagai referensi dan testimonial klien semoga bermanfaat. Enest Sawungpraja